oleh

Mayoritas Masyarakat Responden Polling Belapati Ijen Meminta Kembalinya 1/3 Ijen Yang Diserahkan Ke Bondowoso

Ekspresinusantara.id

Banyuwangi – Kebijakan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang menyerahkan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Kabupaten Bondowoso melalui penandantaganan Berita Acara Kesepakatan tertanggal 3 Juni 2021, hingga kini menjadi kontroversi dan reaksi masyarakat luas. Selain Tim 5 Kaukus Advokat Muda Indonesia (KAMI) menempuh jalur hijau melalui gugatan Citizen Law Suit (gugatan warga negara) yang perkaranya teregistrasi Nomor 196/Pdt.G/2021/PN.Byw di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Bahkan yang mengejutkan sesuai hasil polling independen bertajuk “BELAPATI IJEN”, ternyata 97,4% masyarakat responden menginginkan kembalinya keutuhan kawasan gunung Ijen ke pangkuan Banyuwangi. (Lihat linknya Polling Kita: https://pollingkita.com/index.php?mod=poll_result&id=253680)

Menurut juru bicara Tim 5 KAMI, Denny Sun’anudin, SH menandaskan, adalah hal yang wajar jika masyarakat luas bereaksi keras terhadap penyerahan 1/3 kawasan gunung Ijen ke Bondowoso tersebut. Karena baik ditinjau dari sisi filosofis, historis, yuridis maupun ekonomis, sejak berabad-abad kawasan gunung Ijen sudah menjadi marwahnya Blambangan Banyuwangi. Bahkan yang tak terbantahkan lagi, gunung Ijen dengan segala potensi dan keindahan panoramanya melekat sebagai ikonnya kebanggaan Banyuwangi.

“Oleh karenanya jangan pernah salahkan rakyat Banyuwangi jika bereaksi keras atas penyerahan 1/3 Ijen ke Kabupaten Bondowoso yang dilakukan Bupati Ipuk (Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, red.). Karena ada dua hal penting yang patut digarisbawahi, pertama Bupati Ipuk telah merampas hak-hak rakyat Banyuwangi berupa rasa memiliki, rasa cinta serta rasa bangga terhadap Ijen sebagai ikon kebanggaan. Sedangkan kedua, tidak adanya pelibatan partisipasi publik dan/atau persetujuan DPRD Banyuwangi. Kebijakan Bupati Ipuk yang terkesan karepe dewek (semaunya sendiri, red.) patut diduga sebagai perbuatan Abuse Of Power (penyalahgunaan kekuasaan, red.). Bahkan telah mencederai integritas daerah Banyuwangi,” tegas pria yang hobi berpetualang wisata mistis itu dalam siaran persnya.

Sedangkan penggagas polling independen, Choirul Hidayanto menjelaskan, ide awal dicetuskannya polling berjudul “Belapati Ijen” Itu diilhami oleh gigihnya laskar-laskar Blambangan dalam perang Bayu yang puncaknya terjadi pada tanggal 18 Desember 1771. Dimana perang Bayu yang dipimpin oleh Rempeg Jogopati kala itu untuk melawan dan mengusir penjajah VOC Belanda dari telatah Blambangan.

“Jadi polling Belapati Ijen tersebut bermakna kurang lebihnya sebagai bentuk perlawanan rakyat Banyuwangi demi menyelamatkan Ijen. Kenyataannya sesuai dengan hasil polling yang kami buat dalam dua pilihan, yaitu “Kembali” dan “Lepas”, sebanyak 97,41% meminta “Kembali” dan 2,59% memilih “Lepas”. Kesimpulannya 97,41% masyarakat responden yang berpartisipasi dalam polling independen “Belapati Ijen” tersebut meminta kepada Bupati Ipuk supaya mengembalikan 1/3 Ijen yang diserahkan ke Kabupaten Bondowoso,” ungkap pria yang akrab disapa Bang Irul itu dengan gamblang.

Oleh karenanya bang Irul meminta kepada para elit politik Banyuwangi agar mengatensi suara rakyat tersebut, jangan menganggap hanya sekadar polling biasa. Dikatakannya, para elit politik yang kini duduk di kursi empuk DPRD Banyuwangi merupakan refresentasinya rakyat Banyuwangi.

“Segenap jajaran anggota DPRD sepatutnya mengakomodir suara rakyat, lantas dengan sigap memperjuangkannya. Dan perlu dicatat, kami bersama tim yang sudah terbentuk tak hanya menyerap aspirasi lewat polling independen. Bahkan kami akan menindaklanjuti dengan menggalang pernyataan sikap rakyat mulai dari Banyuwangi utara hingga Banyuwangi selatan dalam bentuk visualisasi atau video,” pungkasnya. (nar,dod)

Komentar

Berita Terkait