oleh

Larangan Ibadah Pengajian Yasin di Desa Kaliploso Berujung Protes Warga

BANYUWANGI –ekspresinusantara.id

Masyarakat di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, geger. Kamis malam (27/8/2020) mereka menyerbu kantor desa setempat. Mereka marah lantaran merasa didzolimi, dilarang menggelar kegiatan ibadah pengajian Yasin.

Dengan alasan guna menekan penyebaran Covid-19, mengingat di Desa Kaliploso, terdapat dua orang warga yang terpapar.

“Menindak Lanjuti Surat dari Dinas Kesehatan Banyuwangi nomor : 43.33/8913/429.112/2020, tanggal 27 Agustus 2020 Tentang Rujukan

Kasus Covid-19 yang di tujukan kepada dua warga Desa Kaliploso,

dengan ini Pemerintah Desa Kaliploso menghimbau kepada warga Desa

Kaliploso untuk tidak mengadakan kegiatan yang mendatangkan kerumunan massa dalam bentuk apapun, antara lain : 1. Kegiatan Hajatan (Nikahan, Khitanan, Walimahan, Tasyakuran, Ulang Tahun, dll). 2. Kegiatan Keagamaan (Yasinan, Tahlilan, Tiba’an/Berjaji, Fida’, Istighosah, dll),” begitu penggalan surat Pemerintah Desa Kaliploso Nomor : 140/289/429.512.09/2020, yang ditujukan kepada para Ketua RT.

Namun diwaktu yang sama, Pemerintah Desa Kaliploso, justru menggelar festival musik yang bernuansa hura-hura dan menjadi pusat berkumpulnya massa. Akibatnya, puluhan masyarakat anggota pengajian Yasin muntab. Tanpa dikomando, mereka pun mendatangi lokasi festival musik didalam kantor desa.

“Tolong dibubarkan, tolong dibubarkan. Kami pengajian dilarang, tapi disini malah festival,” teriak puluhan warga anggota pengajian Yasin waktu itu.

Melihat kedatangan warga protes, puluhan masyarakat yang menonton pun langsung bubar. Namun nampaknya, ada kerabat perangkat desa yang tidak terima dengan aksi warga. Dan melempar ucapan tidak pantas kepada rombongan anggota pengajian Yasin. Sontak emosi massa protes pun pecah. Namun untung warga lain cepat melerai sehingga tak sampai terjadi kontak fisik

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Amarah puluhan anggota pengajian Yasin terlanjur tersulut. Hingga mengakibatkan jalannya protes sempat diwarnai aksi anarkis.

Luapan kekesalan masyarakat di Desa Kaliploso, ini memang cukup beralasan. Mereka kecewa lantaran dilarang menggelar ibadah sunnah pengajian Yasin, dengan dalih menekan penyebaran Covid-19. Sementara di kantor desa justru digeber festival musik yang disitu terdapat kerumunan masyarakat yang menonton.

Yang lebih membuat warga was-was, dalam festival musik, pihak Pemerintah Desa Kaliploso justru mengundang hadirkan sejumlah pihak dari luar wilayah. Sedang melalui surat resmi, Pemerintah Desa Kaliploso, melarang masyarakat untuk mengadakan kegiatan yang mendatangkan kerumunan massa dalam bentuk apapun. Termasuk ibadah pengajian Yasin.

“Masyarakat sangat mendukung program pemerintahan desa, namun dalam kasus ini masyarakat sangat kecewa dengan kebijakan pemerintah desa, yang melarang pengajian Yasin, namun mereka malah menggelar festival musik,” ucap salah satu warga yang enggan disebut namanya, Minggu (30/8/2020).

Membuat sedikit lega, dimalam protes, warga langsung berdialog dengan Pemerintah Desa Kaliploso. Dan ditutup dengan saling memaafkan antara masyarakat dengan seluruh jajaran perangkat Desa Kaliploso. (red)

Komentar

Berita Terkait